Bentrokan Besar Polisi dan Demonstran di London

Bentrokan Besar Polisi dan Demonstran di London

Haberdenizli – Bentrokan Besar Polisi dan Demonstran di London Ribuan orang turun ke jalan di pusat kota London pada Sabtu, 13 September 2025. Lebih dari 100.000 demonstran mengikuti pawai “Unite the Kingdom” yang digerakkan oleh aktivis anti-imigran Tommy Robinson. Polisi menggambarkan jumlah massa sangat besar, bahkan terlalu besar untuk diarahkan ke Whitehall, jalur resmi yang disetujui pemerintah.

Kepolisian Metropolitan London mencatat sekitar 110.000 peserta aksi berbaris sambil membawa bendera Inggris dan Britania Raya. Massa utama dipisahkan dari sekitar 5.000 demonstran tandingan dalam aksi “Stand Up to Racism”. Situasi cepat memanas ketika sebagian peserta mencoba menyimpang dari rute pawai.

“Baca Juga: Polisi Tangkap Remaja 16 Tahun Diduga Bunuh Kekasih di Ciracas”

Polisi yang berusaha membendung pergerakan massa menghadapi perlawanan keras. Petugas ditendang, dipukul, dan dilempari botol, suar, serta berbagai benda lain. “Kami menghadapi kekerasan yang tidak dapat diterima,” tegas juru bicara Kepolisian Metropolitan. Aparat menambah pasukan untuk mengendalikan situasi, namun ketegangan tetap berlanjut hingga malam.

Pengamat politik menilai aksi ini sebagai salah satu demonstrasi sayap kanan terbesar di Inggris dalam beberapa dekade terakhir. Besarnya skala unjuk rasa mencerminkan meningkatnya sentimen anti-imigran di kalangan sebagian warga Inggris.

Meski kericuhan dapat dikendalikan, bentrokan ini meninggalkan tanda tanya besar. Pemerintah dihadapkan pada tantangan serius terkait polarisasi masyarakat. Para pengamat memperingatkan, jika tidak ditangani dengan dialog dan kebijakan inklusif, ketegangan sosial dapat kembali meletus di masa depan.

Polisi Tangkap 25 Orang Usai Bentrokan Besar di London

Bentrokan besar antara polisi dan demonstran di London meninggalkan dampak serius. Kepolisian Metropolitan mencatat 26 petugas terluka, termasuk empat dengan kondisi parah. Sebanyak 25 orang ditangkap dalam kerusuhan tersebut, dan polisi menegaskan penangkapan masih akan berlanjut.

Asisten Komisaris Matt Twist mengatakan bahwa aparat sedang mengidentifikasi lebih banyak pelaku. “Mereka yang terlibat dalam kerusuhan akan menghadapi tindakan tegas dalam beberapa hari dan minggu mendatang,” ujarnya kepada Reuters.

Pawai “Unite the Kingdom” menjadi puncak dari musim panas yang penuh ketegangan di Inggris. Sebelumnya, protes sering terjadi di luar hotel yang menampung para migran. Massa aksi membawa bendera Union Inggris, Salib St. George, serta sejumlah simbol lain. Beberapa juga mengibarkan bendera Amerika dan Israel, mengenakan topi MAGA, dan meneriakkan kritik terhadap Perdana Menteri Keir Starmer.

“Baca Juga: Pemimpin Arab-Muslim Kecam Serangan Israel di KTT Qatar”

Tommy Robinson, penggagas aksi, menyebut unjuk rasa itu sebagai “percikan revolusi budaya di Inggris Raya.” Dalam pidatonya, ia menegaskan massa menunjukkan “gelombang patriotisme yang dahsyat.” Robinson, bernama asli Stephen Yaxley-Lennon, kerap menyebut dirinya jurnalis independen meski memiliki catatan hukum panjang.

Partai Reform UK, yang kini memimpin jajak pendapat, menjaga jarak dari Robinson. Meski sama-sama mengusung isu anti-imigran, partai tersebut berusaha menghindari keterkaitan dengan figur kontroversial itu.

Peristiwa ini menandai titik rawan dalam politik Inggris modern. Besarnya massa dan intensitas bentrokan menunjukkan menguatnya polarisasi sosial. Pemerintah dihadapkan pada tantangan serius untuk meredam sentimen anti-imigran dan mencegah kericuhan serupa terulang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *