Iran Hantam 5 Tanker di Hormuz, 1 Awak Tewas

Iran Hantam 5 Tanker di Hormuz, 1 Awak Tewas

Haberdenizli – Ketegangan di kawasan Teluk meningkat setelah kapal-kapal Iran menyerang sejumlah tanker yang mencoba melintasi Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis tersebut telah ditutup sejak konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat memanas.

Pada Rabu, 11 Maret 2026, sedikitnya lima kapal dilaporkan menjadi sasaran serangan di wilayah Teluk. Dua tanker terbakar di perairan Irak setelah dihantam serangan, sementara tiga kapal lainnya terkena proyektil di area perairan Teluk.

“Baca Juga: Perang Iran, Militer AS Sebut Korban Tembus Ratusan”

Serangan ini menambah jumlah kapal yang diserang sejak konflik dimulai menjadi setidaknya 16 kapal. Target serangan sebagian besar berkaitan dengan jalur pelayaran yang terhubung dengan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.

Insiden tersebut memperlihatkan peningkatan signifikan dalam konflik antara Iran dan pasukan Amerika Serikat serta Israel. Jalur pelayaran yang sangat penting bagi perdagangan energi global kini berada dalam kondisi sangat berisiko.

Serangan Tanker di Perairan Irak Tewaskan Satu Awak Kapal

Dua kapal tanker yang diserang di perairan Irak adalah Safesea Vishnu dan Zefyros. Kedua kapal tersebut diketahui baru saja memuat kargo bahan bakar dari fasilitas energi di Irak.

Safesea Vishnu berlayar dengan bendera Kepulauan Marshall. Sementara Zefyros tercatat menggunakan bendera Malta.

Serangan terhadap kedua kapal tersebut menyebabkan kebakaran besar. Dalam insiden tersebut dilaporkan satu awak kapal tewas.

Menurut pejabat pelabuhan Irak, kedua kapal sedang berada di area pemuatan kapal ke kapal di dalam perairan teritorial Irak. Informasi tersebut juga dikonfirmasi oleh Organisasi Negara Irak untuk Pemasaran Minyak.

Safesea Vishnu disebut disewa oleh perusahaan Irak yang bekerja sama dengan lembaga pemasaran minyak negara. Zefyros diketahui memuat produk kondensat dari Perusahaan Gas Basra.

Serangan Kapal dan Ancaman Iran Picu Gangguan Jalur Minyak Dunia

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran yang sangat penting bagi perdagangan energi global. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur sempit ini setiap hari.

Sejak dimulainya operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, aktivitas pengiriman di kawasan Teluk hampir terhenti. Banyak perusahaan pelayaran menunda perjalanan karena risiko serangan.

Gangguan tersebut berdampak langsung pada pasar energi global. Harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi sejak tahun 2022.

Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa mereka tidak akan mengizinkan ekspor minyak menuju Amerika Serikat, Israel, atau mitra mereka jika serangan terhadap Iran terus berlanjut.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa jalur energi global kini menjadi bagian penting dalam konflik yang sedang berlangsung.

Serangan Proyektil Juga Hantam Kapal Dagang di Selat Hormuz

Selain tanker di perairan Irak, beberapa kapal lain juga menjadi sasaran serangan di sekitar Selat Hormuz. Salah satu kapal yang diserang adalah kapal kargo curah Mayuree Naree berbendera Thailand.

Kapal tersebut dihantam dua proyektil saat melintasi selat pada Rabu pagi. Serangan menyebabkan kebakaran dan kerusakan pada ruang mesin kapal.

Operator kapal, Precious Shipping, melaporkan tiga awak kapal hilang dan diduga terjebak di ruang mesin. Sementara itu, dua puluh awak lainnya berhasil dievakuasi dengan selamat ke Oman.

Angkatan laut Thailand merilis gambar yang menunjukkan asap tebal dari bagian belakang kapal. Insiden ini memperlihatkan risiko tinggi bagi kapal sipil yang mencoba melintasi kawasan tersebut.

Garda Revolusi Iran kemudian menyatakan bahwa kapal tersebut ditembak oleh pejuang Iran. Pernyataan ini dianggap sebagai indikasi keterlibatan langsung pasukan tersebut.

“Baca Juga: Baterai Nuklir China Diklaim Tahan 50 Tahun”

Pelabuhan Minyak Irak Tutup dan Pelayaran Hadapi Risiko Tinggi

Serangan terhadap kapal tanker di wilayah Irak memicu keputusan penutupan operasi pelabuhan minyak negara tersebut. Otoritas pelabuhan menyatakan semua kegiatan ekspor minyak dihentikan sementara.

Namun pelabuhan komersial masih tetap beroperasi untuk kegiatan perdagangan non-energi. Keputusan ini diambil untuk menjaga keamanan fasilitas dan kapal yang beroperasi di kawasan tersebut.

Beberapa kapal lain juga dilaporkan terkena proyektil di perairan Teluk. Kapal kontainer Jepang ONE Majesty mengalami kerusakan ringan akibat serangan di dekat Ras Al Khaimah di Uni Emirat Arab.

Selain itu, kapal curah Star Gwyneth berbendera Kepulauan Marshall juga terkena proyektil sekitar 50 mil laut dari Dubai.

Di tengah situasi ini, industri pelayaran meminta pengawalan militer dari Angkatan Laut Amerika Serikat. Namun militer AS menolak permintaan tersebut karena menilai risiko serangan terlalu tinggi.

Presiden Donald Trump menyatakan Amerika Serikat siap memberikan pengawalan angkatan laut jika diperlukan. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Selat Hormuz berpotensi menjadi titik konflik baru dalam perang yang sedang berlangsung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *