Haberdenizli – Militer Israel menyerang Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, Gaza, Senin (25/8/2025). Sedikitnya 20 orang dilaporkan tewas, termasuk pasien, tenaga medis, dan seorang jurnalis yang sedang bertugas.
Saksi mata mengatakan serangan terjadi dua kali. Serangan kedua dilepaskan ketika warga sipil, jurnalis, dan petugas penyelamat bergegas menuju lokasi pertama. Akibatnya, jumlah korban meningkat secara signifikan.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengonfirmasi serangan tersebut dalam pernyataan resmi. “Kepala Staf Umum menginstruksikan untuk melakukan penyelidikan awal sesegera mungkin,” tulis IDF, dikutip dari BBC. Militer menambahkan pihaknya menyesalkan korban sipil dan menegaskan tidak menargetkan jurnalis.
“Baca Juga: Arya Daru: Respons Kostrad soal Nama Panglima TNI”
Serangan ke fasilitas medis ini menambah daftar panjang korban sipil di Gaza. Menurut data Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 38.000 warga Palestina tewas sejak awal eskalasi konflik pada Oktober 2023 hingga Agustus 2025. Dari jumlah itu, ribuan merupakan perempuan, anak-anak, serta tenaga medis yang berada di garis depan.
Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut fasilitas kesehatan di Gaza menghadapi krisis serius. Sekitar 70% rumah sakit sudah tidak berfungsi penuh akibat kerusakan infrastruktur dan kekurangan pasokan medis. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menegaskan bahwa serangan terhadap rumah sakit melanggar hukum humaniter internasional dan memperburuk krisis kemanusiaan.
Komunitas internasional diperkirakan akan kembali menyoroti akuntabilitas Israel dalam operasi militernya di Gaza. Dengan meningkatnya korban sipil, tekanan global terhadap Israel untuk mematuhi aturan perang dan melindungi warga sipil kemungkinan akan semakin besar dalam beberapa pekan ke depan.
JURNALIS REUTERS TEWAS DALAM SERANGAN ISRAEL DI RS NASSER GAZA
Serangan Israel ke Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, Gaza, Senin (25/8/2025), menewaskan sedikitnya 20 orang. Korban termasuk pasien, tenaga medis, petugas penyelamat, serta jurnalis yang sedang meliput.
Dua jurnalis Reuters menjadi korban. Juru kamera Hussam al-Masri tewas pada serangan pertama, sementara fotografer Hatem Khaled terluka dalam serangan kedua. Pejabat kesehatan Gaza menyebutkan tiga jurnalis lainnya juga terdampak: Mariam Abu Dagga, kontributor lepas Associated Press, Mohammed Salama dari Al Jazeera, dan Moaz Abu Taha.
Serikat Jurnalis Palestina mengecam keras serangan ini. Mereka menyebut Israel melakukan “perang terbuka terhadap media bebas” dengan tujuan menakut-nakuti jurnalis dan membungkam laporan kejahatan perang. Pernyataan itu menegaskan serangan terhadap pekerja media merupakan upaya sistematis untuk menghalangi liputan independen di Gaza.
“Baca Juga: Gaji Anggota DPR Kini Tembus Rp104 Juta per Bulan”
Menurut Serikat Jurnalis Palestina, lebih dari 240 jurnalis telah tewas akibat serangan Israel sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023. Angka ini menjadikan Gaza salah satu wilayah paling berbahaya di dunia bagi pekerja media.
Laporan Reporters Without Borders (RSF) menempatkan Palestina dalam kondisi darurat kebebasan pers. RSF menilai jurnalis di Gaza menghadapi risiko kematian lebih tinggi dibandingkan di zona perang lain, karena banyak serangan dilancarkan langsung ke lokasi liputan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga menegaskan bahwa jurnalis berhak atas perlindungan hukum internasional sebagaimana diatur dalam Konvensi Jenewa. Pelanggaran terhadap ketentuan ini berpotensi dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Situasi tersebut mendorong desakan global agar Israel menghentikan serangan terhadap fasilitas sipil dan media. Tekanan diplomatik internasional kemungkinan akan semakin meningkat, terutama terkait perlunya akuntabilitas atas korban sipil dan jurnalis di Gaza.





Leave a Reply