Korban Tewas Demonstrasi Gen Z Nepal Naik Jadi 31 Orang

Korban Tewas Demonstrasi Gen Z Nepal Naik Jadi 31 Orang

Haberdenizli – Jumlah korban tewas akibat demonstrasi besar-besaran di Nepal terus bertambah. Hingga Kamis (11/9/2025), sedikitnya 31 orang dilaporkan meninggal dunia. Lonjakan angka korban ini terjadi di tengah ketidakstabilan politik setelah jatuhnya Perdana Menteri KP Sharma Oli.

Menurut laporan media lokal, proses perundingan pembentukan pemerintahan sementara masih berlangsung. Ketegangan politik dan aksi protes jalanan membuat situasi di ibu kota Kathmandu semakin tidak kondusif. Polisi dan tentara meningkatkan pengamanan untuk mencegah kerusuhan meluas.

Departemen Kedokteran Forensik Rumah Sakit Pendidikan Universitas Tribhuvan mengonfirmasi bahwa 25 jenazah telah berhasil diidentifikasi. Namun, identitas enam korban lainnya, termasuk seorang perempuan, masih belum diketahui. “Kami terus melakukan autopsi untuk memastikan identitas korban yang belum terdata,” tulis harian Kathmandu Post.

“Baca Juga: Polisi Minta Lepaskan Maling Motor, Kapolres Bekasi Minta Maaf”

Ketegangan meningkat ketika tentara Nepal melepaskan tembakan pada Kamis pagi. Aksi itu dilakukan untuk menghentikan upaya pelarian narapidana. Insiden tersebut menewaskan sedikitnya dua tahanan dan melukai lebih dari selusin lainnya, menurut laporan Anadolu Agency.

Situasi yang semakin memanas ini menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut. Pemerintah sementara yang sedang dibahas diharapkan mampu meredakan gejolak politik. Namun, keberhasilan upaya ini bergantung pada kompromi antarpartai serta jaminan keamanan dari aparat.

Korban Tewas Demonstrasi Gen Z Nepal Naik, Upaya Pembobolan Penjara di Nepal Gagal, Militer Perketat Keamanan

Upaya pembobolan penjara kembali terjadi di distrik Ramechhap, provinsi Bagmati, pada Kamis (11/9/2025). Narapidana mencoba mendobrak gerbang utama setelah berhasil merusak beberapa kunci internal. Namun, pasukan keamanan segera melepaskan tembakan untuk menghentikan aksi itu.

Penjara tersebut diketahui menampung lebih dari 300 narapidana. Pihak kepolisian menyatakan situasi kini terkendali dan tidak ada satu pun tahanan yang berhasil kabur. “Kami bertindak cepat untuk mencegah pelarian massal,” ujar pernyataan kepolisian setempat.

Nepal sendiri sedang menghadapi serangkaian insiden serupa dalam beberapa hari terakhir. Sejak pecahnya protes “Gen Z” yang berujung bentrokan, diperkirakan sekitar 15.000 narapidana berhasil melarikan diri dari berbagai penjara di seluruh negeri.

“Baca Juga: Murka Doha Dibom Israel, Qatar Desak Negara Teluk Bertindak”

Militer kini mengambil alih kendali keamanan nasional setelah jatuhnya Perdana Menteri KP Sharma Oli. Pengunduran diri Oli membuka jalan bagi pembentukan pemerintahan sementara yang masih dalam tahap perundingan.

Di tengah situasi politik yang belum stabil, para pengunjuk rasa muda mengajukan dua nama sebagai calon pemimpin transisi. Jajak pendapat daring menempatkan mantan Ketua Mahkamah Agung, Sushila Karki, sebagai salah satu kandidat. Nama lain yang diajukan adalah Wali Kota Kathmandu, Balendra Shah, yang populer di kalangan generasi muda.

Kondisi Nepal kini berada pada persimpangan penting. Di satu sisi, keamanan nasional menghadapi tantangan besar akibat rentetan kerusuhan dan pelarian tahanan. Di sisi lain, masa depan politik negara Himalaya itu bergantung pada kompromi dalam membentuk pemerintahan sementara. Harapan warga Nepal tetap tertuju pada tercapainya stabilitas dan penyelenggaraan pemilu baru yang adil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *