Krisis Pangan di Gaza, Warga Kelaparan hingga Meninggal

Krisis Pangan di Gaza, Warga Kelaparan hingga Meninggal

Haberdenizli – Gaza saat ini menghadapi risiko kelaparan ekstrem akibat blokade dan perang yang berlangsung tanpa henti. Lembaga Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) memperingatkan bahwa satu dari tiga warga Gaza tidak makan selama beberapa hari. Situasi ini memburuk seiring minimnya bantuan dan serangan berkelanjutan dari Israel.

Wakil Direktur Eksekutif UNICEF, Ted Chaiban, menyampaikan bahwa lebih dari 320.000 anak di Gaza berisiko mengalami malanutrisi akut. Peringatan ini ia sampaikan setelah kunjungannya ke Gaza, Israel, dan wilayah pendudukan Tepi Barat.

“Indikator malanutrisi di Gaza sudah melampaui ambang batas kelaparan,” tegas Chaiban dalam pernyataan kepada media internasional, termasuk Al Jazeera, Minggu (3/8/2025).

“Baca Juga: Siswa SMK Tewas Ditusuk Saat Pulang dari Lokasi PKL”

Anak-Anak Gaza Sekarat, UNICEF Desak Tindakan Internasional Segera

Ted Chaiban menegaskan bahwa kondisi anak-anak Gaza merupakan yang terparah dalam konflik global saat ini. Menurutnya, tingkat kematian anak akibat kekurangan gizi belum pernah terjadi sebelumnya.

“Hari ini saya ingin fokus pada Gaza. Di sinilah penderitaan paling parah terjadi,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dunia kini berada di persimpangan jalan.

“Pilihan yang dibuat sekarang akan menentukan apakah puluhan ribu anak akan hidup atau mati,” lanjutnya dengan nada tegas.

UNICEF mendesak komunitas internasional untuk bertindak cepat. Akses kemanusiaan harus dibuka dan pasokan makanan serta obat-obatan harus segera dikirim ke Gaza.

Kondisi darurat ini memerlukan solidaritas dan tindakan nyata. Jika tidak segera ditangani, Gaza akan menghadapi bencana kelaparan yang menelan korban lebih besar.

Remaja Palestina Meninggal Dunia Akibat Kekurangan Gizi di Gaza

Seorang pemuda Palestina berusia 17 tahun, Atef Abu Khater, meninggal dunia karena kekurangan gizi parah pada Sabtu, 2 Agustus 2025. Informasi ini disampaikan oleh sumber medis di Rumah Sakit al-Shifa kepada Al Jazeera.

Sebelum perang pecah, Khater dikenal sebagai remaja sehat dan aktif. Namun, kondisi fisiknya memburuk drastis akibat minimnya asupan makanan dan gizi. Awal pekan ini, ia dirawat di ruang perawatan intensif dalam kondisi kritis.

Media melaporkan bahwa Khater tidak lagi merespons pengobatan saat dirawat. Ayahnya menyampaikan kesedihannya karena anaknya perlahan melemah tanpa bantuan medis yang memadai.

Tragedi ini mencerminkan krisis kemanusiaan akut yang dihadapi warga Gaza. Kekurangan pangan dan obat-obatan terus mengancam nyawa, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan remaja.

“Baca Juga: Jualan Bakso Sambil Edarkan Sabu, Pria Diringkus Polisi”

Perang Gaza Telan Puluhan Ribu Korban, Ratusan Tewas karena Kelaparan

Sejak 7 Oktober 2023, konflik bersenjata antara Israel dan Palestina telah menewaskan lebih dari 60.000 warga Gaza. Dari jumlah itu, lebih dari 18.000 korban merupakan anak-anak.

Banyak korban masih terkubur di bawah reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan udara. Sebagian besar dari mereka diperkirakan telah meninggal dunia.

Menurut data terbaru Kementerian Kesehatan Gaza, total korban jiwa akibat kelaparan mencapai 162 orang. Dari angka itu, sebanyak 92 korban adalah anak-anak.

Kematian Atef Abu Khater menjadi pengingat tragis tentang kondisi darurat kemanusiaan di Gaza. Komunitas internasional didesak segera bertindak untuk menyelamatkan nyawa warga sipil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *