Haberdenizli – Industri otomotif China tengah dilanda skandal baru yang membuat banyak pihak cemas. Belakangan ini, muncul kasus di mana mobil bekas dipasarkan sebagai kendaraan nol kilometer, meski sebenarnya sudah terdaftar secara resmi. Banyak pembeli merasa tertipu karena mobil tersebut belum pernah digunakan di jalan raya, tetapi sudah memiliki status bekas menurut dokumen resmi.
Dampak Skandal dan Respons Industri Otomotif
Kasus ini menimbulkan keresahan di kalangan konsumen otomotif di China. Banyak orang kini merasa ragu untuk membeli mobil baru maupun bekas, karena khawatir dengan keaslian status kendaraan. Pihak berwenang dan pelaku industri mulai mengambil langkah tegas untuk mengusut praktik penjualan semacam ini. Konsumen diimbau untuk lebih teliti dalam memeriksa dokumen kendaraan sebelum memutuskan pembelian.
“Baca Juga: Bocah di Tangsel Dibacok Pria Misterius, Luka Parah di Kepala”
1. Manipulasi Data Penjualan
Presiden Great Wall Motor (GWM), Wei Jianjun, menjadi sosok yang paling vokal menanggapi pasar otomotif China dianggap sudah tidak sehat lagi. Itu karena praktik ini menuai kritik lantaran mendistorsi data penjualan, menyesatkan konsumen, dan merusak stabilitas pasar jangka panjang.
Melansir Carnewschina, Kamis (5/6/2025), fenomena mobil bekas dengan nol kilometer terjadi karena didaftarkan terlebih dahulu oleh diler untuk memenuhi target penjualan pabrik. Setelah itu, mereka akan menjual kembali sebagai mobil bekas dengan harga miring.
Tujuan utamanya adalah untuk mengurangi stok di pabrik, memenuhi syarat subsidi yang ditetapkan pemerintah, serta memenuhi syarat ekspor. Kelebihan kapasitas dengan stok nasional yang mencapai 3,5 juta unit pada April 2025, membuat strategi ini semakin masif.
Selain itu, perang harga yang ketat dan ketergantungan pada subsidi pemerintah, khususnya di sektor kendaraan energi baru (NEV), telah menciptakan kondisi ini.
“Baca Juga: Heboh! Ibu Muda Melahirkan Mendadak di Toilet Stasiun Bogor”
Meski harga bisa 30 persen lebih rendah, mobil bekas nol kilometer menyimpan banyak risiko. Garansi biasanya dimulai saat registrasi pertama, sehingga jaminan bisa berkurang. Bahkan, beberapa unit masih dalam tanggungan cicilan atau status kepemilikan tidak jelas.
Misal, harga bekas BYD Qin L yang lebih rendah 40 persen dibandingkan model baru. Hal ini memicu efek domino pada merek lain dan menciptakan ekspektasi harga yang tidak realistis di pasar.
Menanggapi hal tersebut, pemerintah China langsung memberi respons melalui Kementerian Perdagangan. Pemerintah memanggil sejumlah pemain besar, seperti BYD, Dongfeng, dan platform penjualan mobil bekas, Guazi. Hal ini untuk membahas pengawasan penjualan mobil bekas dan transparansi laporan penjualan.
Sumber
Okezone.com





Leave a Reply