Haberdenizli – Kunjungan Presiden Taiwan Lai Ching-te ke Eswatini pada awal Mei 2026 memicu perhatian besar dalam geopolitik internasional. Lawatan tersebut dinilai lebih menyerupai operasi diplomatik tertutup dibanding kunjungan resmi biasa.
Situasi itu terjadi setelah beberapa negara Afrika dilaporkan mencabut izin penerbangan bagi pesawat yang membawa Lai. Seychelles, Mauritius, dan Madagaskar disebut menjadi negara yang menolak akses penerbangan tersebut.
Laporan yang beredar menyebut keputusan itu diduga berkaitan dengan tekanan diplomatik dari China. Beijing diketahui terus memperkuat kampanye internasional untuk membatasi ruang diplomatik Taiwan.
Akibat situasi tersebut, Lai akhirnya mengubah rencana perjalanan dan menggunakan pesawat pribadi Raja Eswatini, Mswati III. Langkah itu semakin memperbesar sorotan terhadap hubungan antara Taiwan dan Eswatini.
“Baca Juga: AS Soroti Dugaan Dukungan Senjata China ke Iran”
China kemudian mengecam keputusan Eswatini yang tetap menerima kunjungan Lai. Beijing bahkan menuduh para pemimpin kerajaan Afrika tersebut “dipelihara dan diberi makan” oleh Taiwan.
Peristiwa ini kembali memperlihatkan meningkatnya persaingan diplomatik antara China dan Taiwan di panggung global. Afrika kini menjadi salah satu wilayah penting dalam perebutan pengaruh kedua pihak.
Selain itu, insiden tersebut juga memperlihatkan bagaimana pengaruh China di Afrika mulai meluas melampaui kerja sama ekonomi tradisional.
Eswatini Jadi Mitra Diplomatik Terakhir Taiwan di Afrika
Eswatini saat ini menjadi satu-satunya negara Afrika yang masih memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Taiwan. Posisi tersebut membuat kerajaan kecil di Afrika Selatan itu memiliki arti simbolis besar bagi Taipei.
Dalam satu dekade terakhir, China berhasil membujuk beberapa negara Afrika untuk memutus hubungan dengan Taiwan. Proses tersebut umumnya terjadi bersamaan dengan peningkatan investasi dan kerja sama ekonomi dari Beijing.
Kini Taiwan hanya memiliki hubungan diplomatik formal dengan 12 negara di seluruh dunia. Karena itu, hubungan dengan Eswatini menjadi semakin penting secara politik dan simbolis.
China juga disebut memperluas tekanan terhadap Eswatini dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu contohnya adalah pengecualian negara tersebut dari kebijakan perdagangan bebas tarif yang diumumkan Beijing untuk negara-negara Afrika.
Secara ekonomi, dampaknya mungkin tidak terlalu besar bagi China. Namun secara politik, keputusan tersebut membawa pesan yang sangat jelas mengenai pentingnya kepatuhan terhadap kebijakan “Satu China”.
Beijing ingin menunjukkan bahwa akses terhadap pasar China dan hubungan ekonomi yang menguntungkan tetap terkait dengan posisi diplomatik negara-negara mitra. Hal ini membuat tekanan terhadap Eswatini semakin terasa.
Meski menghadapi tekanan tersebut, Eswatini tetap mempertahankan hubungan resminya dengan Taiwan hingga saat ini.
Dugaan Tekanan China Juga Muncul di Konferensi RightsCon
Selain kasus Eswatini, dugaan pengaruh diplomatik China juga mencuat dalam penundaan konferensi internasional RightsCon di Zambia. Acara tersebut awalnya dijadwalkan berlangsung pada April 2026.
RightsCon dikenal sebagai salah satu konferensi terbesar dunia yang membahas hak digital dan kebebasan internet. Agenda konferensi mencakup isu pengawasan digital, keamanan siber, sensor, dan tata kelola teknologi global.
Menurut laporan yang beredar, China disebut keberatan terhadap partisipasi perwakilan masyarakat sipil Taiwan dalam konferensi tersebut. Penyelenggara diduga diminta membatasi keterlibatan peserta Taiwan.
Jika tuduhan itu benar, maka pengaruh China tidak lagi terbatas pada hubungan antarnegara formal. Tekanan tersebut mulai menyentuh ruang sipil, konferensi internasional, dan aktivitas organisasi nonpemerintah.
Kasus ini juga menarik perhatian karena beberapa topik RightsCon berkaitan langsung dengan praktik pengawasan digital dan ekspor teknologi keamanan China. Hal itu membuat isu campur tangan semakin sensitif.
Para pengamat menilai situasi tersebut menunjukkan perubahan pola pengaruh Beijing di Afrika. China kini dinilai semakin aktif membentuk ruang politik dan diplomatik di luar sektor ekonomi.
Implikasinya cukup besar karena menyangkut siapa yang boleh hadir dalam forum internasional dan topik apa yang dapat dibahas secara terbuka.
Pengaruh China di Afrika Kini Semakin Bersifat Politik
Selama bertahun-tahun, pengaruh China di Afrika umumnya dikaitkan dengan proyek infrastruktur, perdagangan, dan investasi sumber daya alam. Namun perkembangan terbaru menunjukkan perubahan arah yang lebih politis.
China memang masih menjadi mitra perdagangan terbesar bagi banyak negara Afrika. Defisit perdagangan Afrika dengan China bahkan dilaporkan meningkat hingga sekitar 102 miliar dolar AS tahun lalu.
Namun kini Beijing tidak hanya membangun jalan, pelabuhan, atau jaringan telekomunikasi. China juga mulai membentuk perilaku diplomatik dan insentif politik negara-negara di kawasan tersebut.
Pendekatan itu terlihat melalui tekanan terhadap hubungan dengan Taiwan dan keterlibatan dalam ruang diplomasi internasional. Pengaruh China semakin menyentuh aspek keamanan dan tata kelola politik.
Selain ekonomi, Beijing juga terus memperluas kehadiran militernya di Afrika. China kini menjadi penyumbang dana terbesar kedua untuk operasi penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Negara tersebut juga memiliki pangkalan logistik militer luar negeri pertamanya di Djibouti. Kehadiran fasilitas itu memperlihatkan bahwa kepentingan China di Afrika kini melampaui urusan perdagangan semata.
Banyak analis melihat strategi tersebut sebagai bagian dari ambisi jangka panjang Beijing untuk memperkuat pengaruh globalnya.
“Baca Juga: Xiaomi Peringatkan Harga Smartphone Bisa Melonjak”
Eswatini Tunjukkan Perlawanan terhadap Tekanan Beijing
Di tengah meningkatnya tekanan diplomatik, Eswatini tetap mempertahankan hubungannya dengan Taiwan. Sikap tersebut dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi politik China.
Setelah mendapat kritik dari Beijing terkait kunjungan Lai Ching-te, pemerintah Eswatini menegaskan bahwa keputusan kedaulatannya harus dihormati semua pihak. Pernyataan itu langsung menarik perhatian internasional.
Bagi banyak pengamat, langkah Eswatini menunjukkan bahwa negara kecil sekalipun masih memiliki ruang menentukan kebijakan luar negerinya sendiri. Hal itu menjadi penting dalam persaingan geopolitik modern.
Namun sikap tersebut juga membawa konsekuensi yang tidak kecil. Negara-negara yang mempertahankan hubungan dengan Taiwan kini menghadapi tekanan ekonomi dan diplomatik yang semakin besar dari China.
Situasi ini memperlihatkan bagaimana persaingan antara Beijing dan Taipei tidak lagi hanya berlangsung di Asia Timur. Afrika kini menjadi salah satu arena penting dalam perebutan pengaruh internasional tersebut.
Peristiwa terbaru juga menunjukkan bahwa pengaruh global China semakin kompleks dan multidimensi. Beijing kini memadukan kekuatan ekonomi, diplomasi, keamanan, dan teknologi untuk memperluas posisinya di dunia.
Di sisi lain, respons Eswatini memperlihatkan bahwa dinamika geopolitik global masih membuka ruang bagi negara kecil untuk mempertahankan posisi politik yang berbeda, meski dengan risiko yang semakin besar.





Leave a Reply