Haberdenizli – Pemerintah Jepang akan memulai pelepasan minyak terbesar sepanjang sejarah dari cadangan strategis nasional. Kebijakan ini diumumkan di tengah kekhawatiran gangguan pasokan akibat konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Perdana Menteri Sanae Takaichi menyebut langkah ini sebagai upaya antisipasi krisis energi.
Pelepasan cadangan dijadwalkan mulai Kamis, 26 Maret 2026. Pemerintah akan menyalurkan minyak secara bertahap ke kilang domestik. Langkah ini bertujuan menjaga stabilitas pasokan energi di dalam negeri.
“Baca Juga: Australia-UE Perkuat Dagang demi Kurangi China”
Kebijakan ini mencerminkan respons cepat Jepang terhadap ketidakpastian global. Negara tersebut sangat bergantung pada impor minyak, sehingga rentan terhadap gangguan distribusi.
Total 80 Juta Barel Dilepas untuk Penuhi Kebutuhan 45 Hari
Secara keseluruhan, Jepang akan melepas sekitar 80 juta barel minyak. Jumlah ini setara dengan kebutuhan domestik selama 45 hari. Volume tersebut juga jauh lebih besar dibandingkan pelepasan cadangan setelah krisis Fukushima 2011.
Sebelumnya, pemerintah telah menyetujui pelepasan cadangan dari sektor swasta selama 15 hari. Kebijakan ini menjadi langkah awal sebelum pelepasan cadangan negara. Langkah tersebut menunjukkan koordinasi antara pemerintah dan sektor energi.
Hingga akhir tahun lalu, Jepang memiliki cadangan sekitar 470 juta barel. Cadangan ini setara dengan konsumsi domestik selama 254 hari. Namun, ketergantungan pada impor membuat cadangan tetap menjadi faktor penting.
Subsidi Bahan Bakar Diberlakukan untuk Menahan Lonjakan Harga
Pemerintah Jepang juga menggelontorkan subsidi untuk menjaga harga bahan bakar. Harga bensin ditargetkan tetap berada di kisaran 170 yen per liter. Kebijakan ini diambil setelah harga sempat mencapai rekor 190,8 yen per liter.
Subsidi akan dievaluasi setiap pekan mengikuti pergerakan harga minyak global. Langkah ini bertujuan melindungi daya beli masyarakat. Pemerintah berupaya menekan dampak ekonomi dari kenaikan harga energi.
Kebijakan harga ini menjadi bagian dari strategi stabilisasi ekonomi nasional. Jepang berusaha menjaga keseimbangan antara pasokan dan harga energi.
Ketergantungan Timur Tengah dan Risiko Selat Hormuz
Jepang mengimpor lebih dari 90 persen minyak mentah dari Timur Tengah. Ketergantungan ini membuat negara tersebut sangat sensitif terhadap gangguan di kawasan tersebut. Salah satu titik krusial adalah Selat Hormuz.
Gangguan lalu lintas kapal tanker di jalur tersebut dapat berdampak langsung pada pasokan energi. Oleh karena itu, stabilitas Timur Tengah menjadi kepentingan strategis Jepang. Pemerintah terus memantau perkembangan situasi secara intensif.
Takaichi menegaskan pentingnya perdamaian di kawasan tersebut bagi dunia. Jepang juga terus melakukan upaya diplomatik dengan negara terkait. Langkah ini bertujuan mengurangi risiko eskalasi konflik.
“Baca Juga: Chatty Slimey Hadir, Teman Ngobrol di Dragon Quest X”
Pemerintah Imbau Warga Hindari Panic Buying Kebutuhan Pokok
Kekhawatiran krisis energi turut memicu kecemasan masyarakat. Isu ketersediaan barang kebutuhan seperti tisu toilet sempat ramai diperbincangkan. Pemerintah pun mengimbau masyarakat agar tidak melakukan panic buying.
Asosiasi Industri Kertas Rumah Tangga Jepang menyatakan pasokan tetap aman. Sekitar 97 persen produksi tisu berasal dari bahan daur ulang domestik. Industri juga siap meningkatkan produksi jika diperlukan.
Meski demikian, kekhawatiran tetap menyebar di media sosial. Beberapa warga dilaporkan mulai menimbun barang kebutuhan. Pemerintah menegaskan bahwa tindakan tersebut justru dapat memicu kelangkaan sementara.
Dengan langkah antisipatif ini, Jepang berupaya menjaga stabilitas energi dan sosial. Pemerintah berharap situasi tetap terkendali di tengah ketidakpastian global.





Leave a Reply