Haberdenizli – Marathon kini menjadi sorotan besar setelah laporan finansial terbaru Sony mengungkap dampak serius terhadap Bungie. Game extraction shooter tersebut disebut mengalami performa yang jauh di bawah harapan sejak peluncurannya pada 5 Maret 2026.
Sebelumnya, banyak spekulasi beredar mengenai kondisi finansial Bungie setelah perilisan Marathon. Namun, laporan keuangan terbaru Sony akhirnya memberikan gambaran lebih jelas mengenai skala kerugian yang terjadi. Situasi ini langsung memicu perhatian besar dari komunitas gaming dan analis industri.
“Baca Juga: Nintendo Umumkan Kenaikan Harga Switch 2 Global”
Marathon awalnya diposisikan sebagai salah satu proyek live service penting bagi strategi gaming Sony. Game tersebut diharapkan mampu memperkuat ekspansi PlayStation di pasar multiplayer modern. Namun, hasil akhirnya justru dinilai jauh dari ekspektasi perusahaan.
Performa buruk Marathon kini dianggap sebagai salah satu faktor terbesar yang menyebabkan penurunan nilai Bungie secara drastis. Kasus ini juga memperlihatkan risiko besar dalam pengembangan game live service berskala AAA di industri modern.
Sony Catat Kerugian Hingga Ratusan Juta Dolar Terkait Bungie
Dalam laporan finansial terbaru, Sony mengonfirmasi adanya impairment loss sebesar 765 juta dolar AS atau sekitar Rp12 triliun yang berkaitan langsung dengan Bungie. Nilai tersebut menunjukkan penurunan besar terhadap valuasi studio yang diakuisisi Sony pada Juli 2022.
Saat proses akuisisi dilakukan, Bungie dibeli dengan nilai sekitar 3,6 miliar dolar AS. Namun kini, nilai studio tersebut disebut telah merosot di bawah batas toleransi yang ditetapkan perusahaan.
Yang paling mencolok, sekitar 565 juta dolar AS dari total kerugian tersebut terjadi hanya dalam satu kuartal terakhir. Banyak pihak menilai penurunan besar ini sangat berkaitan dengan kegagalan Marathon di pasar.
Kerugian sebesar itu menjadi salah satu sorotan terbesar dalam laporan finansial Sony tahun ini. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa investasi besar dalam industri game modern tetap memiliki risiko sangat tinggi.
Kasus Bungie kini mulai dibandingkan dengan beberapa akuisisi mahal lain yang mengalami kesulitan pasca pembelian. Banyak analis menilai Sony menghadapi tantangan besar untuk mengembalikan nilai investasi mereka pada studio tersebut.
Kritik terhadap Marathon Muncul Sejak Hari Pertama
Sejak dirilis, Marathon langsung menerima banyak kritik dari komunitas pemain. Sebagian besar keluhan mengarah pada gaya visual game yang dianggap terlalu melelahkan untuk dimainkan dalam waktu lama.
Selain itu, user interface atau antarmuka game dinilai terlalu rumit dan kurang nyaman digunakan. Banyak pemain merasa sistem menu dan navigasi game tidak ramah bagi pemain baru.
Pendekatan gameplay extraction shooter juga menuai kritik cukup besar. Sebagian pemain menganggap Bungie terlalu memaksakan inovasi di genre yang sebenarnya sudah dipenuhi banyak kompetitor kuat.
Marathon akhirnya kesulitan menarik perhatian pemain dalam jangka panjang. Di tengah persaingan ketat genre extraction shooter, game tersebut dianggap gagal menawarkan identitas yang benar-benar menonjol.
Banyak komunitas gaming juga membandingkan Marathon dengan game extraction shooter lain yang sudah lebih mapan di pasar. Perbandingan tersebut membuat posisi game Bungie semakin sulit sejak awal peluncuran.
Data Steam Tunjukkan Penurunan Jumlah Pemain yang Signifikan
Situasi Marathon semakin memburuk ketika data pemain di platform Steam mulai diperhatikan publik. Saat laporan finansial Sony dirilis, game tersebut hanya mampu mempertahankan sekitar 6.000 pemain aktif.
Peak harian Marathon juga disebut hanya berada di kisaran 15.000 pemain. Untuk ukuran game live service AAA yang menjadi bagian penting strategi Sony, angka tersebut dianggap sangat rendah.
Data itu memperlihatkan bahwa Marathon kesulitan mempertahankan basis pemain aktif setelah peluncuran awal. Dalam model bisnis live service, jumlah pemain yang stabil sangat penting untuk menjaga keberlanjutan game.
Banyak pengamat industri menilai kondisi ini sangat mengkhawatirkan bagi masa depan Bungie. Studio tersebut sebelumnya dikenal sukses melalui franchise Destiny yang memiliki komunitas pemain besar.
Kini, kegagalan Marathon justru memunculkan pertanyaan mengenai arah kreatif dan strategi live service Bungie ke depan. Sony kemungkinan harus melakukan evaluasi besar terhadap proyek-proyek studio tersebut.
“Baca Juga: AMD Ryzen AI Max+ PRO 495 Muncul dengan RAM Besar”
Masa Depan Bungie dan Strategi Sony Kini Dipertanyakan
Dalam laporan yang sama, Sony juga mengungkap operating income mereka turun 24 persen secara tahunan. Penurunan tersebut terjadi di tengah perlambatan penjualan PlayStation 5 akibat masalah suplai komponen global.
Meski PS5 hampir mencapai angka 100 juta unit terjual, pertumbuhan penjualan konsol mulai melambat. Situasi itu membuat kegagalan proyek live service seperti Marathon terasa semakin berat bagi Sony.
Kasus Bungie kini mulai dianggap sebagai salah satu contoh terbesar risiko akuisisi mahal dalam industri game modern. Banyak perusahaan gaming memang agresif membeli studio besar dalam beberapa tahun terakhir, tetapi tidak semua investasi berjalan sesuai harapan.
Jika proyek Bungie berikutnya gagal memperbaiki performa finansial studio, spekulasi mengenai integrasi penuh Bungie ke dalam PlayStation Studios kemungkinan akan semakin kuat.
Untuk saat ini, Sony masih belum memberikan rincian mengenai langkah lanjutan terhadap Bungie maupun masa depan Marathon. Namun, laporan finansial terbaru sudah cukup memperlihatkan bahwa proyek tersebut menjadi salah satu tantangan terbesar Sony di industri gaming modern saat ini.





Leave a Reply