Mantan Presiden Yaman Hadi Tutup Usia di Pengasingan

Mantan Presiden Yaman Hadi Tutup Usia di Pengasingan

Haberdenizli – Mantan Presiden Yaman, Abd-Rabbu Mansour Hadi, dilaporkan meninggal dunia pada Kamis, 28 Mei 2026, di Riyadh, Arab Saudi. Kabar tersebut diumumkan melalui televisi pemerintah Yaman yang menyebut Hadi wafat pada usia 80 tahun.

Hadi merupakan presiden Yaman yang diakui secara internasional selama salah satu periode paling sulit dalam sejarah modern negara tersebut. Ia memimpin pemerintahan yang menghadapi konflik berkepanjangan, krisis politik, dan bencana kemanusiaan yang meluas.

Dalam beberapa tahun terakhir, Hadi tinggal di Arab Saudi setelah meninggalkan Yaman akibat perang saudara yang berkecamuk sejak 2015. Dari pengasingannya, ia tetap menjadi simbol pemerintahan yang mendapat pengakuan internasional meskipun pengaruhnya di dalam negeri semakin terbatas.

“Baca Juga: Israel Laporkan Komandan Hamas Tewas dalam Operasi Gaza”

Kepergiannya menandai berakhirnya perjalanan politik seorang tokoh yang memainkan peran penting dalam transisi kekuasaan Yaman setelah gelombang protes Arab Spring. Pemerintah Yaman juga mengumumkan masa berkabung nasional selama tiga hari sebagai bentuk penghormatan.

Selama periode berkabung tersebut, bendera negara dikibarkan setengah tiang di berbagai institusi pemerintahan yang berada di bawah otoritas pemerintah yang diakui secara internasional.

Pemerintah Yaman Kenang Peran Hadi dalam Mempertahankan Republik

Kepala Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman, Rashad al-Alimi, menyampaikan penghormatan kepada Hadi setelah kabar wafatnya diumumkan. Dalam pernyataannya, al-Alimi menilai Hadi sebagai pemimpin yang memperjuangkan hak rakyat Yaman untuk memperoleh negara yang adil dan stabil.

Menurut al-Alimi, Hadi berkomitmen terhadap nilai kebebasan, martabat manusia, dan sistem pemerintahan republik. Ia juga menyebut mantan presiden tersebut memainkan peran penting dalam mempertahankan legitimasi negara selama masa konflik.

Pernyataan tersebut mencerminkan posisi Hadi sebagai tokoh sentral dalam pemerintahan Yaman yang diakui oleh komunitas internasional. Selama masa jabatannya, ia menjadi wajah utama pemerintahan yang berupaya mempertahankan eksistensinya di tengah perang saudara.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan politik dan militer, Hadi tetap memperoleh dukungan dari sejumlah negara dan organisasi internasional yang mengakui pemerintahannya sebagai otoritas sah Yaman.

Penghormatan yang diberikan pemerintah menunjukkan bahwa warisan politik Hadi masih memiliki arti penting bagi sebagian kalangan yang mendukung sistem republik di negara tersebut.

Dari Wakil Presiden hingga Pemimpin Masa Transisi Yaman

Abd-Rabbu Mansour Hadi memulai karier politiknya jauh sebelum menjadi presiden. Ia dikenal sebagai perwira militer karier yang kemudian menduduki berbagai posisi penting dalam pemerintahan Yaman.

Sebelum menjabat sebagai presiden, Hadi selama bertahun-tahun menjadi wakil presiden di bawah kepemimpinan Ali Abdullah Saleh. Ia mendampingi Saleh hingga gelombang protes Arab Spring mengguncang Yaman dan negara-negara lain di Timur Tengah.

Pada 2012, Hadi terpilih sebagai presiden dalam pemilu yang hanya menghadirkan dirinya sebagai satu-satunya kandidat. Dalam pemungutan suara tersebut, ia memperoleh lebih dari 99 persen suara.

Masa kepresidenannya dimulai dengan harapan besar untuk membawa stabilitas dan reformasi politik. Namun berbagai tantangan segera muncul, termasuk ketegangan politik, krisis ekonomi, dan meningkatnya pengaruh kelompok Houthi.

Selama masa pemerintahannya, Hadi menghadapi kritik dari sejumlah pihak yang menilai kebijakannya lebih menguntungkan wilayah tertentu dibandingkan daerah lain. Kritik tersebut menjadi bagian dari dinamika politik yang terus berkembang menjelang pecahnya konflik besar di negara itu.

Konflik Houthi Paksa Hadi Tinggalkan Yaman

Situasi politik Yaman berubah drastis ketika kelompok Houthi berhasil menguasai ibu kota Sanaa pada 2014. Perkembangan tersebut menjadi titik balik yang memperdalam krisis politik dan keamanan di negara itu.

Pada awal 2015, Houthi menempatkan Hadi dalam tahanan rumah setelah berhasil memperluas pengaruh mereka di berbagai wilayah. Namun, Hadi berhasil melarikan diri beberapa waktu kemudian dan meninggalkan Yaman.

Ia kemudian menuju Arab Saudi, yang menjadi basis utama pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional selama bertahun-tahun berikutnya. Dari Riyadh, Hadi memimpin pemerintahan dalam pengasingan sambil mendapat dukungan dari koalisi yang dipimpin Arab Saudi.

Perang yang kemudian pecah antara Houthi dan koalisi tersebut berkembang menjadi salah satu konflik paling kompleks di Timur Tengah. Konflik tersebut melibatkan berbagai aktor regional dan internasional serta menyebabkan krisis kemanusiaan yang sangat besar.

Selama delapan tahun berikutnya, Hadi memimpin pemerintahan yang terpecah dan menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan legitimasi politik serta dukungan publik.

“Baca Juga: Rumor Baru Persona 6 Picu Antusiasme Penggemar”

Warisan Hadi di Tengah Krisis Berkepanjangan Yaman

Pada April 2022, Hadi mengundurkan diri dan menyerahkan kewenangannya kepada Dewan Kepemimpinan Presiden yang baru dibentuk. Langkah tersebut dilakukan ketika Yaman memasuki fase gencatan senjata yang dimediasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Peralihan kekuasaan itu menandai akhir masa kepemimpinan Hadi setelah bertahun-tahun memimpin negara yang dilanda perang. Meski tidak lagi menjabat, namanya tetap terkait erat dengan berbagai peristiwa penting dalam sejarah modern Yaman.

Hingga saat ini, Yaman masih terbagi antara wilayah yang dikuasai Houthi di utara dan wilayah yang berada di bawah pemerintahan yang diakui secara internasional di selatan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan politik dan keamanan belum sepenuhnya berakhir.

Konflik yang berlangsung selama bertahun-tahun telah menimbulkan dampak kemanusiaan yang sangat besar. Ratusan ribu orang dilaporkan meninggal akibat dampak langsung maupun tidak langsung dari perang, sementara jutaan lainnya membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Abd-Rabbu Mansour Hadi meninggalkan seorang istri, Hala, serta enam anak. Kepergiannya menutup babak kehidupan seorang tokoh yang selama bertahun-tahun berada di pusat pergolakan politik Yaman. Warisannya akan terus menjadi bagian dari perdebatan mengenai masa lalu, masa kini, dan masa depan negara tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *